Trump menambah tahap serangan terhadap Ketua Federal Reserve Powell. Dari kritik terbuka terhadap “ketidakmampuan atau ketidakjujuran”, hingga Departemen Kehakiman memulai penyelidikan kriminal, ini bukan lagi perang kata-kata politik, melainkan ancaman substantif terhadap independensi Federal Reserve. Konflik ini didasari oleh perebutan kendali kebijakan moneter, dan dampaknya jauh melampaui pasar Amerika Serikat.
Tiga Tahap Perluasan Konflik
Ketidakpuasan Trump terhadap Powell bukanlah hal yang baru. Sejak akhir tahun lalu, dia telah beberapa kali secara terbuka mengkritik kinerja Powell. Tetapi perkembangan pada 12 Januari menandai masuknya konflik ini ke tahap baru—Jaksa federal AS telah memulai penyelidikan kriminal terhadap Powell, secara formal terkait renovasi gedung markas Federal Reserve di Washington.
Momen ini sangat bermakna. Masa jabatan Powell akan berakhir pada Mei 2026, dan penyelidikan kriminal yang dihadapinya, kritik terbuka Trump, serta keraguan terhadap independensinya, tanpa diragukan lagi memberi tekanan.
Ancaman nyata terhadap independensi yang terancam
Independensi Federal Reserve sangat penting bagi sistem keuangan global. Ketika bank sentral langsung ditekan oleh kekuatan politik, kredibilitas pengambilan keputusannya akan menurun. Saul Eslake, mantan kepala ekonom di ANZ Australia, menunjukkan bahwa serangan berkelanjutan pemerintah Trump terhadap independensi Federal Reserve telah mulai mempengaruhi secara global—hasil obligasi jangka panjang di Australia dan negara lain meningkat, dan beban utang pemerintah menghadapi tekanan.
Ini berarti melemahnya independensi Federal Reserve bukan hanya masalah internal AS, tetapi juga mengguncang sistem keuangan global.
Respon pasar yang kompleks
Menariknya, reaksi pasar terhadap konflik ini tidaklah sederhana. Di satu sisi, investor khawatir terhadap melemahnya independensi Federal Reserve, yang mendorong imbal hasil obligasi jangka panjang naik. Di sisi lain, para strategis Wall Street umumnya tetap optimis tentang prospek ekonomi 2026—mereka memperkirakan Federal Reserve akan memilih untuk menurunkan suku bunga di bawah tekanan, sesuai dengan niat kebijakan Trump.
Logika Wall Street adalah: kemungkinan munculnya situasi “ikan dan beruang sekaligus”—penurunan suku bunga, insentif pajak, dan peningkatan produktivitas AI secara bersamaan. Goldman Sachs memperkirakan laba per saham S&P 500 akan tumbuh 12%. Tetapi, asumsi optimisme ini bergantung pada: Federal Reserve akhirnya akan berkompromi di bawah tekanan politik.
Dampak Tidak Langsung terhadap Pasar Kripto
Konflik ini memiliki beberapa potensi dampak terhadap pasar kripto:
Ekspektasi Likuiditas: Jika Federal Reserve dipaksa mempercepat penurunan suku bunga, ini akan melepaskan lebih banyak likuiditas, biasanya mendukung aset berisiko termasuk mata uang kripto
Pergerakan Dolar: melemahnya independensi Federal Reserve dapat melemahkan kepercayaan terhadap dolar, mendorong daya tarik aset luar negeri berbasis dolar
Ketidakpastian Kebijakan: politisasi pengambilan keputusan bank sentral akan meningkatkan volatilitas pasar, yang merupakan risiko sekaligus peluang bagi trader
Kepercayaan Jangka Panjang: jika independensi bank sentral global menjadi risiko sistemik, investor mungkin meningkatkan alokasi ke keuangan terdesentralisasi dan aset kripto
Kesimpulan
Tekanan Trump terhadap Powell telah meningkat dari level retorika ke ranah hukum, ini bukan sekadar konflik politik, melainkan ancaman langsung terhadap independensi Federal Reserve. Dalam jangka pendek, pasar mungkin tetap optimis karena ekspektasi penurunan suku bunga, tetapi dalam jangka panjang, melemahnya independensi bank sentral akan meningkatkan kerentanan sistem keuangan global. Bagi pasar kripto, ini berarti potensi pelepasan likuiditas sekaligus peningkatan ketidakpastian. Kunci selanjutnya adalah mengamati bagaimana Powell merespons tekanan ini dan apakah Federal Reserve akan mengubah kebijakan mereka di bawah tekanan politik.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Krisis independensi Federal Reserve meningkat: dari tekanan melalui pernyataan hingga penyelidikan hukum oleh Trump
Trump menambah tahap serangan terhadap Ketua Federal Reserve Powell. Dari kritik terbuka terhadap “ketidakmampuan atau ketidakjujuran”, hingga Departemen Kehakiman memulai penyelidikan kriminal, ini bukan lagi perang kata-kata politik, melainkan ancaman substantif terhadap independensi Federal Reserve. Konflik ini didasari oleh perebutan kendali kebijakan moneter, dan dampaknya jauh melampaui pasar Amerika Serikat.
Tiga Tahap Perluasan Konflik
Ketidakpuasan Trump terhadap Powell bukanlah hal yang baru. Sejak akhir tahun lalu, dia telah beberapa kali secara terbuka mengkritik kinerja Powell. Tetapi perkembangan pada 12 Januari menandai masuknya konflik ini ke tahap baru—Jaksa federal AS telah memulai penyelidikan kriminal terhadap Powell, secara formal terkait renovasi gedung markas Federal Reserve di Washington.
Momen ini sangat bermakna. Masa jabatan Powell akan berakhir pada Mei 2026, dan penyelidikan kriminal yang dihadapinya, kritik terbuka Trump, serta keraguan terhadap independensinya, tanpa diragukan lagi memberi tekanan.
Ancaman nyata terhadap independensi yang terancam
Independensi Federal Reserve sangat penting bagi sistem keuangan global. Ketika bank sentral langsung ditekan oleh kekuatan politik, kredibilitas pengambilan keputusannya akan menurun. Saul Eslake, mantan kepala ekonom di ANZ Australia, menunjukkan bahwa serangan berkelanjutan pemerintah Trump terhadap independensi Federal Reserve telah mulai mempengaruhi secara global—hasil obligasi jangka panjang di Australia dan negara lain meningkat, dan beban utang pemerintah menghadapi tekanan.
Ini berarti melemahnya independensi Federal Reserve bukan hanya masalah internal AS, tetapi juga mengguncang sistem keuangan global.
Respon pasar yang kompleks
Menariknya, reaksi pasar terhadap konflik ini tidaklah sederhana. Di satu sisi, investor khawatir terhadap melemahnya independensi Federal Reserve, yang mendorong imbal hasil obligasi jangka panjang naik. Di sisi lain, para strategis Wall Street umumnya tetap optimis tentang prospek ekonomi 2026—mereka memperkirakan Federal Reserve akan memilih untuk menurunkan suku bunga di bawah tekanan, sesuai dengan niat kebijakan Trump.
Logika Wall Street adalah: kemungkinan munculnya situasi “ikan dan beruang sekaligus”—penurunan suku bunga, insentif pajak, dan peningkatan produktivitas AI secara bersamaan. Goldman Sachs memperkirakan laba per saham S&P 500 akan tumbuh 12%. Tetapi, asumsi optimisme ini bergantung pada: Federal Reserve akhirnya akan berkompromi di bawah tekanan politik.
Dampak Tidak Langsung terhadap Pasar Kripto
Konflik ini memiliki beberapa potensi dampak terhadap pasar kripto:
Kesimpulan
Tekanan Trump terhadap Powell telah meningkat dari level retorika ke ranah hukum, ini bukan sekadar konflik politik, melainkan ancaman langsung terhadap independensi Federal Reserve. Dalam jangka pendek, pasar mungkin tetap optimis karena ekspektasi penurunan suku bunga, tetapi dalam jangka panjang, melemahnya independensi bank sentral akan meningkatkan kerentanan sistem keuangan global. Bagi pasar kripto, ini berarti potensi pelepasan likuiditas sekaligus peningkatan ketidakpastian. Kunci selanjutnya adalah mengamati bagaimana Powell merespons tekanan ini dan apakah Federal Reserve akan mengubah kebijakan mereka di bawah tekanan politik.