Otoritas Moneter Singapura menghadapi pertanyaan tentang celah pengawasan setelah Chen Zhi, ketua Prince Holding Group, terlibat dalam salah satu operasi penipuan cryptocurrency terbesar di Asia yang diduga mengalirkan miliaran melalui saluran keuangan yang sah. Sanctions AS terbaru mengungkapkan bahwa Chen dan beberapa rekan terkait dengan penipuan canggih yang beroperasi dari Kamboja, menimbulkan kekhawatiran tentang bagaimana jaringan tersebut menembus sistem keuangan yang sangat diatur di Singapura.
Skema Penipuan Crypto: Dari Penipuan Korban hingga Pencucian Aset Digital
Jaringan kriminal tersebut diduga menjalankan skema penipuan investasi rumit yang biasa dikenal sebagai penipuan “pig butchering”. Operasi ini menargetkan korban melalui platform investasi palsu, meyakinkan mereka untuk menyetor modal dengan janji pengembalian, lalu menguras akun setelah saldo terkumpul. Otoritas mengidentifikasi jaringan ini menggunakan cryptocurrency dan akun shell untuk menyembunyikan hasil ilegal.
Departemen Kehakiman AS mengoordinasikan sanksi terhadap Chen dan beberapa warga Singapura karena pencucian miliaran dolar yang dihasilkan melalui skema ini, yang dilaporkan melibatkan operasi tenaga kerja paksa di Kamboja. Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) dari Departemen Keuangan mengeluarkan tindakan penegakan hukum, dengan FinCEN memutus hubungan entitas terkait dari sistem keuangan AS karena perjuangan yang berkelanjutan dalam membongkar pasar aset digital ilegal.
Keuntungan Pajak DW Capital: Bagaimana Sebuah Office Keluarga Mengklaim Persetujuan Regulasi
Pada 2018, Chen Zhi dan rekan Chen Xiuling mendirikan DW Capital Holdings Pte, sebuah office keluarga tunggal yang mengklaim menerima insentif pajak 13X dari regulator keuangan Singapura. Chen Zhi menjabat sebagai pendiri dan ketua, sementara Chen Xiuling menjabat sebagai kepala keuangan mulai 2021.
Saat dihubungi tentang pengaturan ini, Otoritas Moneter Singapura mengonfirmasi bahwa mereka “sedang menyelidiki apakah ada pelanggaran terhadap persyaratan MAS terkait kasus ini.” Pernyataan tersebut mengakui bahwa regulator saat ini sedang memeriksa apakah DW Capital memanfaatkan celah pengawasan dalam proses persetujuan office keluarga.
Hubungan Bisnis Terpadu di Seluruh Institusi Elit Singapura
Rincian penyelidikan mengungkapkan bagaimana operasi yang tampak sah dari jaringan ini menyentuh entitas paling terkemuka di Singapura. Anak perusahaan konstruksi Prince Group, Canopy Sands Development, bekerja sama dengan perusahaan terkait Temasek untuk perencanaan proyek pembangunan di Kamboja senilai $16 miliar. Selain itu, anak perusahaan Temasek mengontrak dengan entitas terkait Prince untuk operasi manajemen hotel di Kamboja, meskipun perusahaan kemudian menyatakan tidak memiliki kepemilikan dan sedang meninjau kepatuhan terhadap sanksi internasional.
Catatan properti menunjukkan akuisisi properti besar: Chen membeli penthouse mewah di Gramercy Park seharga S$17 juta ($13 juta USD), sementara rekan-rekannya membeli properti bernilai tinggi lainnya di dekatnya, dengan transaksi lain mencapai S$18,2 juta.
Tanggapan Regulasi dan Implikasi Sistemik
Setelah pengumuman sanksi AS, polisi Singapura belum mengumumkan penyelidikan resmi. Otoritas Moneter Singapura mengumumkan penundaan penerapan regulasi perbankan aset kripto baru hingga 2027, menunda batas waktu awal 1 Januari 2026. MAS menyatakan akan “terus memantau perkembangan lanskap aset kripto dan standar regulasi global untuk memastikan keselarasan.”
Singapura juga mempertimbangkan langkah-langkah peningkatan untuk mencegah individu yang dihukum karena tindak pidana pencucian uang memegang posisi direktur—sebuah tanggapan terhadap kekhawatiran reputasi setelah skandal keuangan sebesar S$3-miliar ($2,34 miliar USD) yang menantang posisi negara sebagai pusat keuangan global.
Gambaran Lebih Luas: Kerentanan Institusional dalam Kerangka Kepatuhan
Kasus ini menyoroti pertanyaan sistemik tentang bagaimana jaringan kriminal canggih menavigasi infrastruktur keuangan yang sah, terutama melalui struktur office keluarga dan saluran properti. Regulator di seluruh institusi keuangan Singapura kini menghadapi pengawasan apakah pemeriksaan latar belakang standar dan proses persetujuan rutin cukup menyaring hubungan dengan target sanksi internasional atau penyelidikan kriminal yang sedang berlangsung.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Regulator Singapura Dalam Pengawasan atas Dugaan Jaringan Penipuan Crypto yang Beroperasi Melalui Family Office
Otoritas Moneter Singapura menghadapi pertanyaan tentang celah pengawasan setelah Chen Zhi, ketua Prince Holding Group, terlibat dalam salah satu operasi penipuan cryptocurrency terbesar di Asia yang diduga mengalirkan miliaran melalui saluran keuangan yang sah. Sanctions AS terbaru mengungkapkan bahwa Chen dan beberapa rekan terkait dengan penipuan canggih yang beroperasi dari Kamboja, menimbulkan kekhawatiran tentang bagaimana jaringan tersebut menembus sistem keuangan yang sangat diatur di Singapura.
Skema Penipuan Crypto: Dari Penipuan Korban hingga Pencucian Aset Digital
Jaringan kriminal tersebut diduga menjalankan skema penipuan investasi rumit yang biasa dikenal sebagai penipuan “pig butchering”. Operasi ini menargetkan korban melalui platform investasi palsu, meyakinkan mereka untuk menyetor modal dengan janji pengembalian, lalu menguras akun setelah saldo terkumpul. Otoritas mengidentifikasi jaringan ini menggunakan cryptocurrency dan akun shell untuk menyembunyikan hasil ilegal.
Departemen Kehakiman AS mengoordinasikan sanksi terhadap Chen dan beberapa warga Singapura karena pencucian miliaran dolar yang dihasilkan melalui skema ini, yang dilaporkan melibatkan operasi tenaga kerja paksa di Kamboja. Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) dari Departemen Keuangan mengeluarkan tindakan penegakan hukum, dengan FinCEN memutus hubungan entitas terkait dari sistem keuangan AS karena perjuangan yang berkelanjutan dalam membongkar pasar aset digital ilegal.
Keuntungan Pajak DW Capital: Bagaimana Sebuah Office Keluarga Mengklaim Persetujuan Regulasi
Pada 2018, Chen Zhi dan rekan Chen Xiuling mendirikan DW Capital Holdings Pte, sebuah office keluarga tunggal yang mengklaim menerima insentif pajak 13X dari regulator keuangan Singapura. Chen Zhi menjabat sebagai pendiri dan ketua, sementara Chen Xiuling menjabat sebagai kepala keuangan mulai 2021.
Saat dihubungi tentang pengaturan ini, Otoritas Moneter Singapura mengonfirmasi bahwa mereka “sedang menyelidiki apakah ada pelanggaran terhadap persyaratan MAS terkait kasus ini.” Pernyataan tersebut mengakui bahwa regulator saat ini sedang memeriksa apakah DW Capital memanfaatkan celah pengawasan dalam proses persetujuan office keluarga.
Hubungan Bisnis Terpadu di Seluruh Institusi Elit Singapura
Rincian penyelidikan mengungkapkan bagaimana operasi yang tampak sah dari jaringan ini menyentuh entitas paling terkemuka di Singapura. Anak perusahaan konstruksi Prince Group, Canopy Sands Development, bekerja sama dengan perusahaan terkait Temasek untuk perencanaan proyek pembangunan di Kamboja senilai $16 miliar. Selain itu, anak perusahaan Temasek mengontrak dengan entitas terkait Prince untuk operasi manajemen hotel di Kamboja, meskipun perusahaan kemudian menyatakan tidak memiliki kepemilikan dan sedang meninjau kepatuhan terhadap sanksi internasional.
Catatan properti menunjukkan akuisisi properti besar: Chen membeli penthouse mewah di Gramercy Park seharga S$17 juta ($13 juta USD), sementara rekan-rekannya membeli properti bernilai tinggi lainnya di dekatnya, dengan transaksi lain mencapai S$18,2 juta.
Tanggapan Regulasi dan Implikasi Sistemik
Setelah pengumuman sanksi AS, polisi Singapura belum mengumumkan penyelidikan resmi. Otoritas Moneter Singapura mengumumkan penundaan penerapan regulasi perbankan aset kripto baru hingga 2027, menunda batas waktu awal 1 Januari 2026. MAS menyatakan akan “terus memantau perkembangan lanskap aset kripto dan standar regulasi global untuk memastikan keselarasan.”
Singapura juga mempertimbangkan langkah-langkah peningkatan untuk mencegah individu yang dihukum karena tindak pidana pencucian uang memegang posisi direktur—sebuah tanggapan terhadap kekhawatiran reputasi setelah skandal keuangan sebesar S$3-miliar ($2,34 miliar USD) yang menantang posisi negara sebagai pusat keuangan global.
Gambaran Lebih Luas: Kerentanan Institusional dalam Kerangka Kepatuhan
Kasus ini menyoroti pertanyaan sistemik tentang bagaimana jaringan kriminal canggih menavigasi infrastruktur keuangan yang sah, terutama melalui struktur office keluarga dan saluran properti. Regulator di seluruh institusi keuangan Singapura kini menghadapi pengawasan apakah pemeriksaan latar belakang standar dan proses persetujuan rutin cukup menyaring hubungan dengan target sanksi internasional atau penyelidikan kriminal yang sedang berlangsung.