Belakangan ini saya mengulas data akun trading selama dua tahun terakhir, termasuk lebih dari 1000 catatan transaksi dari diri sendiri dan trader di sekitar saya. Hasil analisisnya cukup menyakitkan—kesalahan yang dilakukan saat floating profit seringkali lebih parah daripada saat mengalami kerugian.
Situasi yang paling umum adalah: susah payah akun mulai menunjukkan warna merah, malah ingin mengambil keuntungan lebih, akhirnya apa-apa tidak didapatkan.
**Mengapa saat floating profit sulit untuk mengambil keuntungan?**
Secara garis besar terbagi menjadi tiga tipe orang. Tipe pertama adalah tipe keberuntungan, saat akun menunjukkan floating profit mereka ingin bertaruh lagi apakah bisa terus naik, setiap hari memantau layar. Ada juga yang serakah, setelah mendapatkan 50 poin ingin 100 poin, akhirnya kembali ke keadaan semula. Yang paling menyakitkan adalah tipe perbandingan—melihat orang lain mendapatkan lebih banyak, diri sendiri tidak bisa duduk tenang, memaksa menunggu lagi, akhirnya terjebak. Saya pernah melihat situasi ini di lebih dari 200 akun. Menariknya, transaksi yang menghasilkan uang justru paling mudah terjebak dalam perangkap ini.
Ada satu data yang sangat kejam: akun yang sama-sama menguntungkan, trader yang enggan mengambil keuntungan, drawdown akun mereka bisa lebih tinggi 40%. Bayangkan apa artinya—separuh dari uang yang kamu hasilkan dengan susah payah hilang karena drawdown.
**Bagaimana psikologi menjelaskan hal ini?**
Singkatnya, ini adalah aversi terhadap kerugian. Manusia takut kerugian jauh lebih besar daripada menginginkan keuntungan. Mendapatkan 50 rupiah mungkin hanya membuatmu merasa puas 8 poin, tapi kerugian 50 rupiah bisa membuatmu merasa tidak nyaman 12 poin. Jadi saat floating profit muncul, kita secara naluriah ingin menjaga uang itu mati-matian, malah melewatkan titik penutupan posisi terbaik. Ditambah lagi, melihat orang lain mendapatkan lebih banyak membuat iri, kamu mendapatkan 10%, mereka 15%, tidak rela dan memaksakan bertahan, akhirnya malah rugi 5%. Jerat psikologis ini hampir semua trader pernah terjebak.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Ini adalah kebiasaan yang saya lakukan setiap hari, mentalitas benar-benar adalah musuh terbesar.
Kartu bagus bisa dimainkan hingga kehilangan semuanya, sungguh sangat tragis.
Saat mendapatkan keuntungan malah menjadi paling rakus, sulit dikendalikan.
Melihat orang lain mendapatkan banyak keuntungan membuat saya tidak bisa duduk tenang, ini menyentuh saya.
Benar sekali, tidak mau mengambil keuntungan saat itu benar-benar selesai.
Penarikan 50%, rasanya seperti saya sendiri yang mengatakannya hahaha.
Yaitu sifat serakah yang sulit diubah, setiap kali ingin makan lebih banyak.
Penjelasan tentang ketakutan kehilangan ini luar biasa, jika diterapkan pada diri sendiri adalah kenyataan yang berdarah-darah.
Lihat AsliBalas0
DataOnlooker
· 15jam yang lalu
Jujur saja, data penarikan 40% ini benar-benar menyentuh hati saya, sangat nyata
Melihat orang lain mendapatkan keuntungan 15% sementara saya hanya 10% saja sudah tidak bisa duduk tenang, akhirnya kedua tangan kosong, saya sangat mengerti perasaan ini
Keserakahan benar-benar adalah musuh terbesar dalam trading, tidak ada bandingannya
Penjelasan psikologisnya luar biasa, benar-benar tepat sasaran
Sebenarnya hanya karena kemampuan eksekusi yang buruk, titik take profit yang sudah dibuat menjadi sia-sia
Keuntungan yang belum direalisasi yang paling sulit bukanlah menghasilkan uang, tetapi bersedia untuk take profit
Yang selalu menatap layar setiap hari tidak pernah berakhir baik, saya adalah bukti hidupnya
Perbandingan psikologis adalah yang paling menakutkan, melihat akun orang lain saja sudah membuat saya marah
Didukung oleh lebih dari 1000 data, saya percaya dengan kesimpulan ini
Belakangan ini saya mengulas data akun trading selama dua tahun terakhir, termasuk lebih dari 1000 catatan transaksi dari diri sendiri dan trader di sekitar saya. Hasil analisisnya cukup menyakitkan—kesalahan yang dilakukan saat floating profit seringkali lebih parah daripada saat mengalami kerugian.
Situasi yang paling umum adalah: susah payah akun mulai menunjukkan warna merah, malah ingin mengambil keuntungan lebih, akhirnya apa-apa tidak didapatkan.
**Mengapa saat floating profit sulit untuk mengambil keuntungan?**
Secara garis besar terbagi menjadi tiga tipe orang. Tipe pertama adalah tipe keberuntungan, saat akun menunjukkan floating profit mereka ingin bertaruh lagi apakah bisa terus naik, setiap hari memantau layar. Ada juga yang serakah, setelah mendapatkan 50 poin ingin 100 poin, akhirnya kembali ke keadaan semula. Yang paling menyakitkan adalah tipe perbandingan—melihat orang lain mendapatkan lebih banyak, diri sendiri tidak bisa duduk tenang, memaksa menunggu lagi, akhirnya terjebak. Saya pernah melihat situasi ini di lebih dari 200 akun. Menariknya, transaksi yang menghasilkan uang justru paling mudah terjebak dalam perangkap ini.
Ada satu data yang sangat kejam: akun yang sama-sama menguntungkan, trader yang enggan mengambil keuntungan, drawdown akun mereka bisa lebih tinggi 40%. Bayangkan apa artinya—separuh dari uang yang kamu hasilkan dengan susah payah hilang karena drawdown.
**Bagaimana psikologi menjelaskan hal ini?**
Singkatnya, ini adalah aversi terhadap kerugian. Manusia takut kerugian jauh lebih besar daripada menginginkan keuntungan. Mendapatkan 50 rupiah mungkin hanya membuatmu merasa puas 8 poin, tapi kerugian 50 rupiah bisa membuatmu merasa tidak nyaman 12 poin. Jadi saat floating profit muncul, kita secara naluriah ingin menjaga uang itu mati-matian, malah melewatkan titik penutupan posisi terbaik. Ditambah lagi, melihat orang lain mendapatkan lebih banyak membuat iri, kamu mendapatkan 10%, mereka 15%, tidak rela dan memaksakan bertahan, akhirnya malah rugi 5%. Jerat psikologis ini hampir semua trader pernah terjebak.