Starlink di Iran mengalami penindakan besar-besaran, memicu pemikiran yang lebih dalam: mengapa perangkat internet satelit ini dikategorikan sebagai "alat strategis" dan bukan sekadar teknologi sipil?
Secara kasat mata, Elon Musk membungkus Starlink sebagai solusi internet untuk daerah terpencil di seluruh dunia, menekankan sifat sipil dan manfaatnya yang inklusif. Tetapi kenyataannya jauh lebih kompleks dari narasi tersebut. Berdasarkan informasi terbuka, Pentagon AS sejak 2020 telah menginvestasikan 150 juta dolar AS ke SpaceX untuk pengembangan versi militer dari satelit Starlink, dan proyek ini masih langsung diawasi oleh pejabat tinggi Angkatan Udara AS, menunjukkan bahwa sejak awal Starlink telah mengandung unsur militer.
Yang lebih penting lagi, sistem ini telah terintegrasi secara mendalam ke dalam sistem operasi militer AS. Angkatan Laut AS telah melengkapi lebih dari 200 kapal dengan terminal Starlink untuk menghubungkan data secara real-time antar kapal dan mengendalikan drone; sementara Angkatan Darat menguji kemampuan kolaborasi jaringan antara Starlink, pesawat tempur, dan pesawat pengisi bahan bakar dalam latihan, untuk memverifikasi keandalannya sebagai tulang punggung komunikasi di medan perang. Aplikasi ini cukup menjelaskan mengapa Iran menganggap 100.000 terminal yang masuk ke pasar sebagai potensi risiko keamanan—karena memang ini bukan sekadar alat akses internet.
Dari sudut pandang geopolitik, kendali atas jaringan komunikasi menyangkut batas keamanan informasi nasional. Ketika sebuah perangkat memiliki potensi untuk digunakan secara sipil maupun militer, sikap hati-hati dari pihak yang bertahan pun dapat dimengerti. Ini bukan ketakutan teknologi, melainkan pertimbangan strategis yang rasional.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
11 Suka
Hadiah
11
5
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
SmartMoneyWallet
· 5jam yang lalu
1.5 milyar dolar AS diinvestasikan ke Starlink militer, aliran dana di balik angka ini adalah poin utama, kedalaman keterikatan militer dengan jaringan satelit sama sekali bukan cerita untuk penggunaan sipil.
Tunggu, lebih dari 200 kapal perang dilengkapi terminal? Logika distribusi chip ini langsung jelas, penetrasi berantai yang matang jauh lebih tersembunyi daripada metode manipulasi paus di dunia koin.
Pemeriksaan 100.000 terminal di Iran sebenarnya adalah pihak pertahanan yang melihat melalui lapisan tiga dana-militer-sipil ini, kamu bilang ini adalah kepanikan? Saya tertawa.
Teknik branding Elon Musk memang hebat, mengemas alat perang sebagai barang konsumsi sipil dan menjualnya ke seluruh dunia, apa sih istilahnya di dunia blockchain—oh iya, pencucian chip.
Lihat AsliBalas0
FreeMinter
· 5jam yang lalu
Sejujurnya, Starlink adalah Trojan horse milik militer AS, yang menyamar sebagai penggunaan sipil untuk aplikasi militer, semua orang bisa melihatnya
Lihat AsliBalas0
BitcoinDaddy
· 5jam yang lalu
Sial, sekarang kebenarannya benar-benar terungkap, pernyataan Elon Musk tentang "Internet yang inklusif" memang bisa menipu... Sejak Pentagon menginvestasikan 150 juta dolar, itu bukan lagi barang sipil, gen militer tidak bisa disembunyikan sama sekali
Lihat AsliBalas0
SatoshiChallenger
· 5jam yang lalu
Data menunjukkan bahwa barang yang diinvestasikan sebesar 150 juta dolar, bagaimana mungkin hanya sebuah router sipil. Ironisnya, kami bahkan masih membahas apakah ini adalah alat strategis, sementara Pentagon sudah memberikan jawabannya.
Lihat AsliBalas0
screenshot_gains
· 5jam yang lalu
Singkatnya, ini adalah alat militer yang disamarkan sebagai perlengkapan sipil, reaksi Iran tidaklah aneh.
Starlink di Iran mengalami penindakan besar-besaran, memicu pemikiran yang lebih dalam: mengapa perangkat internet satelit ini dikategorikan sebagai "alat strategis" dan bukan sekadar teknologi sipil?
Secara kasat mata, Elon Musk membungkus Starlink sebagai solusi internet untuk daerah terpencil di seluruh dunia, menekankan sifat sipil dan manfaatnya yang inklusif. Tetapi kenyataannya jauh lebih kompleks dari narasi tersebut. Berdasarkan informasi terbuka, Pentagon AS sejak 2020 telah menginvestasikan 150 juta dolar AS ke SpaceX untuk pengembangan versi militer dari satelit Starlink, dan proyek ini masih langsung diawasi oleh pejabat tinggi Angkatan Udara AS, menunjukkan bahwa sejak awal Starlink telah mengandung unsur militer.
Yang lebih penting lagi, sistem ini telah terintegrasi secara mendalam ke dalam sistem operasi militer AS. Angkatan Laut AS telah melengkapi lebih dari 200 kapal dengan terminal Starlink untuk menghubungkan data secara real-time antar kapal dan mengendalikan drone; sementara Angkatan Darat menguji kemampuan kolaborasi jaringan antara Starlink, pesawat tempur, dan pesawat pengisi bahan bakar dalam latihan, untuk memverifikasi keandalannya sebagai tulang punggung komunikasi di medan perang. Aplikasi ini cukup menjelaskan mengapa Iran menganggap 100.000 terminal yang masuk ke pasar sebagai potensi risiko keamanan—karena memang ini bukan sekadar alat akses internet.
Dari sudut pandang geopolitik, kendali atas jaringan komunikasi menyangkut batas keamanan informasi nasional. Ketika sebuah perangkat memiliki potensi untuk digunakan secara sipil maupun militer, sikap hati-hati dari pihak yang bertahan pun dapat dimengerti. Ini bukan ketakutan teknologi, melainkan pertimbangan strategis yang rasional.