Rupiah Indonesia sedang menuju ke wilayah yang belum pernah dijelajahi—kemungkinan besar akan menembus rekor terendah sebelumnya dalam waktu dekat, menurut pengamat pasar. Masalahnya? Upaya bank sentral untuk menopang mata uang diperkirakan akan gagal menghadapi hambatan dari tantangan fiskal yang lebih dalam.
Analis menunjukkan tekanan struktural ekonomi yang tidak bisa dengan mudah dibalik hanya dengan intervensi. Ketika sebuah negara menghadapi kekhawatiran anggaran yang terus-menerus, pelemahan mata uang menjadi mekanisme penyesuaian—sakit tetapi tak terelakkan. Tekanan semacam ini pada mata uang pasar berkembang mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang keberlanjutan utang dan disiplin fiskal.
Bagi trader dan mereka yang memantau pasar global, ini adalah contoh klasik bagaimana tekanan fiskal berubah menjadi depresiasi mata uang. Penurunan rupiah menegaskan mengapa fondasi makroekonomi lebih penting daripada solusi kebijakan sementara.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
7 Suka
Hadiah
7
6
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
OfflineValidator
· 2jam yang lalu
Bank sentral mencetak uang untuk menyelamatkan pasar, tetapi hasilnya tetap tidak mampu mengatasi fundamental yang buruk, ini benar-benar di luar nalar
Lihat AsliBalas0
AirdropLicker
· 19jam yang lalu
Bank Indonesia lagi mau gagal lagi nih, kecepatan mesin cetak uang nggak seimbang sama laju depresiasi...
Lihat AsliBalas0
NFTRegretDiary
· 19jam yang lalu
Pasar Indonesia akan kembali menyentuh level terendah baru, intervensi bank sentral pun sia-sia... Ini adalah tekanan makro yang sebenarnya
Lihat AsliBalas0
BoredStaker
· 19jam yang lalu
Pasar Indonesia akan kembali menyentuh level terendah baru, intervensi bank sentral pun tidak berhasil...Ini benar-benar masalah struktural
Lihat AsliBalas0
AirdropHunterXiao
· 19jam yang lalu
央妈再努力也白搭,根本问题在这呢
Balas0
BlockchainDecoder
· 20jam yang lalu
Menurut penelitian, depresiasi rupiah Indonesia kali ini pada dasarnya adalah hasil yang tak terelakkan dari ketidakseimbangan fiskal, intervensi bank sentral hanya mengobati gejala, bukan penyebabnya. Dari segi teknis, akar tekanan mata uang pasar berkembang terletak pada masalah keberlanjutan utang, data menunjukkan bahwa alat kebijakan tunggal sama sekali tidak mampu mencegah resesi struktural. Perlu dicatat bahwa ini sangat mirip dengan logika krisis rupiah India tahun 2013.
---
Main koin saja takut bertemu dengan black swan makroekonomi seperti ini... Sekalipun bank sentral berusaha melindungi pasar, jika struktur fiskal terus memburuk, ya tetap akan jatuh, tidak ada jalan keluar.
---
Yang menarik adalah pasar selalu ingin menyelamatkan situasi dengan analisis teknis, padahal fundamental adalah bos besar, apapun yang dilakukan sia-sia. Depresiasi rupiah kali ini menembus level terendah baru mungkin baru permulaan.
---
Secara keseluruhan, depresiasi mata uang pasar berkembang sebenarnya adalah mekanisme koreksi pasar yang menyakitkan, daripada berharap bank sentral turun tangan, lebih baik fokus pada kemajuan restrukturisasi fiskal Indonesia sendiri.
---
Saya cuma mau tanya, apa pendapat teman-teman yang optimis terhadap aset Indonesia sekarang? Dengan fundamental seperti ini, rebound teknis paling banter hanya menunda depresiasi.
Rupiah Indonesia sedang menuju ke wilayah yang belum pernah dijelajahi—kemungkinan besar akan menembus rekor terendah sebelumnya dalam waktu dekat, menurut pengamat pasar. Masalahnya? Upaya bank sentral untuk menopang mata uang diperkirakan akan gagal menghadapi hambatan dari tantangan fiskal yang lebih dalam.
Analis menunjukkan tekanan struktural ekonomi yang tidak bisa dengan mudah dibalik hanya dengan intervensi. Ketika sebuah negara menghadapi kekhawatiran anggaran yang terus-menerus, pelemahan mata uang menjadi mekanisme penyesuaian—sakit tetapi tak terelakkan. Tekanan semacam ini pada mata uang pasar berkembang mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang keberlanjutan utang dan disiplin fiskal.
Bagi trader dan mereka yang memantau pasar global, ini adalah contoh klasik bagaimana tekanan fiskal berubah menjadi depresiasi mata uang. Penurunan rupiah menegaskan mengapa fondasi makroekonomi lebih penting daripada solusi kebijakan sementara.