Banyak orang merasa investasi sangat sulit, terlalu banyak hal yang harus dipelajari dan terlalu beragam. Tapi ada satu fakta yang sering diabaikan: dibandingkan dengan pengetahuan dan keterampilan investasi, menjaga mindset investasi yang benar sebenarnya jauh lebih sulit.
Warren Buffett sudah merangkum bahwa investasi sebenarnya hanya dua pelajaran—belajar menilai nilai dan belajar melihat volatilitas. Terlihat sederhana, tapi sangat sedikit orang yang benar-benar mampu melakukannya.
Saya menemukan bahwa berpikir terbalik sangat berguna. Daripada bingung harus melakukan apa, lebih baik mengeliminasi jalan yang jelas salah terlebih dahulu. Sisanya, meskipun bukan solusi terbaik, jauh dari esensi yang sebenarnya.
Mari kita lihat 9 kesalahan mindset yang paling umum dalam investasi:
**Pertama adalah kecanduan prediksi**. Selalu terlalu menilai kemampuan diri dalam menilai pasar, membayangkan bisa tepat waktu membeli saat harga rendah dan menjual saat tinggi, setiap hari berpikir apakah harus masuk lebih awal. Akibatnya, sering melakukan transaksi, sering stop-loss, dan akhirnya menjadi pekerja di bursa.
**Kedua adalah fluktuasi antara keserakahan dan ketakutan**. Saat serakah, takut untuk bertindak dan menunggu harga lebih rendah, menunggu diskon sampai merasa sudah cukup murah, atau sebaliknya, menaruh taruhan besar pada aset yang sama sekali tidak dipahami, menambah leverage, menambah biaya, dan akhirnya berantakan. Saat ketakutan datang, panik menjual, menjatuhkan aset berkualitas ke harga terendah, menjadi contoh "beli tinggi jual rendah".
**Ketiga adalah mengikuti arus secara buta**. Membeli karena orang lain membeli, menjual karena orang lain menjual, tanpa pemikiran independen. Masuk saat pasar puncak, keluar saat pasar dasar, berkali-kali salah prediksi arah.
**Keempat adalah mengejar kenaikan dan menjual saat jatuh**. Saat pasar naik, takut ketinggalan, buru-buru ikut beli; saat pasar turun, takut rugi besar, buru-buru jual. Emosi mengikuti grafik harga.
**Kelima adalah ketakutan terhadap kerugian dan penipuan diri sendiri**. Saat untung, merasa sombong; saat rugi, merasa dendam. Ketakutan terhadap kerugian jauh lebih besar daripada keinginan akan keuntungan, sehingga lebih memilih berkhayal "asal tidak jual, tidak rugi" daripada menerima kenyataan, berharap suatu saat bisa balik modal.
**Keenam adalah terikat biaya**. Harga beli seperti duri di hati. Kalau rugi, tahan saja, bilang nanti akan balik modal; kalau untung, cepat keluar, takut keuntungan menyusut. Terikat oleh keputusan masa lalu yang mengaburkan penilaian saat ini.
**Ketujuh adalah bias konfirmasi**. Hanya mendengarkan suara yang mendukung pendapat sendiri, menutup telinga terhadap kritik, tidak mau melihat kondisi fundamental. Semakin keras kepala, semakin terisolasi.
**Kedelapan adalah ingin cepat kaya**. Menganggap investasi sama dengan judi, selalu ingin menggandakan, berharap kena limit, dan membeli hari ini, besok sudah untung. Sering transaksi, merasa mengendalikan pasar, padahal sebenarnya hanya membayar biaya transaksi dan mengabaikan nilai jangka panjang.
**Kesembilan adalah meremehkan risiko secara serius**. Percaya diri penuh bahwa hal buruk tidak akan menimpa diri sendiri, menambah leverage, berinvestasi dengan risiko tinggi, mengandalkan seluruh kekayaan pada satu aset. Setelah satu gelombang, semuanya hilang.
Sejujurnya, saya pernah jatuh ke semua lubang ini. Sekarang mereka masih berputar di kepala, karena itulah sifat manusia. Inilah bagian tersulit—bukan belajar pengetahuan, tapi mengalahkan diri sendiri.
Kabar baiknya, saya sudah bisa mengabaikan godaan-godaan ini secara umum, karena saya tahu itu salah. Tapi benar-benar melakukannya? Jujur saja, sangat sulit. Melawan naluri manusia sendiri adalah perjuangan yang berat.
Pengetahuan bisa dipelajari, pengalaman bisa dilatih, keterampilan bisa diasah. Tapi mindset investasi harus diasah setiap hari, setiap saat. Inilah yang disebut "latihan di lapangan"—memahami satu prinsip tidak sulit, tapi menerapkannya sangat sulit. Perlakukan setiap transaksi, setiap keputusan sebagai batu asah, untuk mengasah karakter diri dalam praktik nyata.
Esensi dari value investing sebenarnya adalah melawan naluri manusia. Ia memaksa kita melawan keserakahan, menekan ketakutan, menghindari ikut-ikutan, dan mengendalikan keangkuhan. Menggantikan dorongan emosional dengan analisis rasional, mengalahkan keinginan jangka pendek dengan prinsip jangka panjang, mengalahkan psikologi ikut-ikutan dengan pemikiran independen, dan menggunakan prinsip serta disiplin untuk mengendalikan diri.
Ini adalah pelajaran jangka panjang. Jika kamu juga memikirkan jebakan-jebakan ini, mari kita pelajari bersama secara perlahan apa sebenarnya mindset investasi yang benar. Hanya dengan benar-benar memahami apa yang salah, kita bisa perlahan menuju yang benar.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
19 Suka
Hadiah
19
4
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
MEVSupportGroup
· 01-10 23:42
Benar, saya telah melewati semua 9 lubang itu, sekarang jika saya mengingatnya, semuanya adalah catatan air mata
Memang benar, pengetahuan mudah dipelajari, sikap mental adalah neraka
Kalimat tentang bekerja di bursa benar-benar menyentuh, hari-hari sering berhenti rugi benar-benar tidak lebih baik dari mati
Hal yang melawan manusia memang paling sulit untuk dipertahankan, setiap kali merasa ini berbeda
Sikap mental ini tidak ada jalan pintas, hanya bisa terus diasah melalui kerugian
Saya masih bingung dengan konsep ketakutan terhadap kerugian, tidak mau melepas
Biaya masa lalu menjadi belenggu saat ini, rasanya tidak bisa lepas
Kalimat terakhir benar, keluarkan dulu yang salah, sisanya secara alami akan benar
Tidak peduli berapa banyak keuntungan, jika sikap mental baik, hasilnya pasti akan mengikuti
Lihat AsliBalas0
MissedAirdropBro
· 01-10 23:35
Saya akan membuat beberapa komentar dengan gaya yang berbeda:
---
Saya adalah gabungan dari yang pertama dan kedelapan, saat ini masih dalam proses pelunasan utang
---
Benar sekali, ini adalah bagian yang paling menyebalkan
---
Melawan sifat manusia ini memang harus dilatih setiap hari, kalau tidak, satu gelombang pasar akan kembali ke zaman sebelum kemerdekaan
---
Saya mungkin akan menguasai semua sembilan jenis, haha tolong selamatkan saya
---
Intinya jangan menganggap diri sendiri sebagai peramal, pencerahan ini datang terlalu terlambat
---
Ngomong-ngomong, yang benar-benar sulit adalah mengeksekusi semua ini, tahu dan melakukan jaraknya jauh sekali
---
Setiap kali bilang akan diperbaiki, tapi saat waktunya datang, tetap saja jatuh ke lubang
Lihat AsliBalas0
BearMarketSurvivor
· 01-10 23:23
Wah, benar sekali, saya adalah orang yang telah melewati semuanya haha
Bagian ini menyentuh hati, terutama poin kelima dan keenam, saya masih berjuang dengan psikologi yang terikat pada biaya
Yang penting adalah mengetahui dan memahami, tetapi benar-benar melakukannya adalah keahlian sejati
Lihat AsliBalas0
LiquiditySurfer
· 01-10 23:23
Singkatnya, ini tentang mentalitas, tanpa sedikit pun pengendalian diri, akhirnya pasti akan mati di bursa.
Banyak orang merasa investasi sangat sulit, terlalu banyak hal yang harus dipelajari dan terlalu beragam. Tapi ada satu fakta yang sering diabaikan: dibandingkan dengan pengetahuan dan keterampilan investasi, menjaga mindset investasi yang benar sebenarnya jauh lebih sulit.
Warren Buffett sudah merangkum bahwa investasi sebenarnya hanya dua pelajaran—belajar menilai nilai dan belajar melihat volatilitas. Terlihat sederhana, tapi sangat sedikit orang yang benar-benar mampu melakukannya.
Saya menemukan bahwa berpikir terbalik sangat berguna. Daripada bingung harus melakukan apa, lebih baik mengeliminasi jalan yang jelas salah terlebih dahulu. Sisanya, meskipun bukan solusi terbaik, jauh dari esensi yang sebenarnya.
Mari kita lihat 9 kesalahan mindset yang paling umum dalam investasi:
**Pertama adalah kecanduan prediksi**. Selalu terlalu menilai kemampuan diri dalam menilai pasar, membayangkan bisa tepat waktu membeli saat harga rendah dan menjual saat tinggi, setiap hari berpikir apakah harus masuk lebih awal. Akibatnya, sering melakukan transaksi, sering stop-loss, dan akhirnya menjadi pekerja di bursa.
**Kedua adalah fluktuasi antara keserakahan dan ketakutan**. Saat serakah, takut untuk bertindak dan menunggu harga lebih rendah, menunggu diskon sampai merasa sudah cukup murah, atau sebaliknya, menaruh taruhan besar pada aset yang sama sekali tidak dipahami, menambah leverage, menambah biaya, dan akhirnya berantakan. Saat ketakutan datang, panik menjual, menjatuhkan aset berkualitas ke harga terendah, menjadi contoh "beli tinggi jual rendah".
**Ketiga adalah mengikuti arus secara buta**. Membeli karena orang lain membeli, menjual karena orang lain menjual, tanpa pemikiran independen. Masuk saat pasar puncak, keluar saat pasar dasar, berkali-kali salah prediksi arah.
**Keempat adalah mengejar kenaikan dan menjual saat jatuh**. Saat pasar naik, takut ketinggalan, buru-buru ikut beli; saat pasar turun, takut rugi besar, buru-buru jual. Emosi mengikuti grafik harga.
**Kelima adalah ketakutan terhadap kerugian dan penipuan diri sendiri**. Saat untung, merasa sombong; saat rugi, merasa dendam. Ketakutan terhadap kerugian jauh lebih besar daripada keinginan akan keuntungan, sehingga lebih memilih berkhayal "asal tidak jual, tidak rugi" daripada menerima kenyataan, berharap suatu saat bisa balik modal.
**Keenam adalah terikat biaya**. Harga beli seperti duri di hati. Kalau rugi, tahan saja, bilang nanti akan balik modal; kalau untung, cepat keluar, takut keuntungan menyusut. Terikat oleh keputusan masa lalu yang mengaburkan penilaian saat ini.
**Ketujuh adalah bias konfirmasi**. Hanya mendengarkan suara yang mendukung pendapat sendiri, menutup telinga terhadap kritik, tidak mau melihat kondisi fundamental. Semakin keras kepala, semakin terisolasi.
**Kedelapan adalah ingin cepat kaya**. Menganggap investasi sama dengan judi, selalu ingin menggandakan, berharap kena limit, dan membeli hari ini, besok sudah untung. Sering transaksi, merasa mengendalikan pasar, padahal sebenarnya hanya membayar biaya transaksi dan mengabaikan nilai jangka panjang.
**Kesembilan adalah meremehkan risiko secara serius**. Percaya diri penuh bahwa hal buruk tidak akan menimpa diri sendiri, menambah leverage, berinvestasi dengan risiko tinggi, mengandalkan seluruh kekayaan pada satu aset. Setelah satu gelombang, semuanya hilang.
Sejujurnya, saya pernah jatuh ke semua lubang ini. Sekarang mereka masih berputar di kepala, karena itulah sifat manusia. Inilah bagian tersulit—bukan belajar pengetahuan, tapi mengalahkan diri sendiri.
Kabar baiknya, saya sudah bisa mengabaikan godaan-godaan ini secara umum, karena saya tahu itu salah. Tapi benar-benar melakukannya? Jujur saja, sangat sulit. Melawan naluri manusia sendiri adalah perjuangan yang berat.
Pengetahuan bisa dipelajari, pengalaman bisa dilatih, keterampilan bisa diasah. Tapi mindset investasi harus diasah setiap hari, setiap saat. Inilah yang disebut "latihan di lapangan"—memahami satu prinsip tidak sulit, tapi menerapkannya sangat sulit. Perlakukan setiap transaksi, setiap keputusan sebagai batu asah, untuk mengasah karakter diri dalam praktik nyata.
Esensi dari value investing sebenarnya adalah melawan naluri manusia. Ia memaksa kita melawan keserakahan, menekan ketakutan, menghindari ikut-ikutan, dan mengendalikan keangkuhan. Menggantikan dorongan emosional dengan analisis rasional, mengalahkan keinginan jangka pendek dengan prinsip jangka panjang, mengalahkan psikologi ikut-ikutan dengan pemikiran independen, dan menggunakan prinsip serta disiplin untuk mengendalikan diri.
Ini adalah pelajaran jangka panjang. Jika kamu juga memikirkan jebakan-jebakan ini, mari kita pelajari bersama secara perlahan apa sebenarnya mindset investasi yang benar. Hanya dengan benar-benar memahami apa yang salah, kita bisa perlahan menuju yang benar.